Perajin Keris Generasi ke 17
Sungkowo mengatakan, dirinya merupakan keturunan terakhir Empu Tumenggung Supadriyo yang masih menjadi empu sepertinya, karena belum ada keturunan lainnya yang menjadi empu sepertinya. Sebelumnya pernah ada namun sudah meninggal sehingga tidak ada yang melanjutkannya.
Meski dirinya sebagai keturunan empu pada jaman Kerajaan Majapahit, keberadaannya di Yogyakarta bukanlah tanpa sebab. Ia menerangkan jika keturunan Empu Tumenggung Supadriyo itu sempat melayani pembuatan keris sejumlah kerajaan besar di Pulau Jawa.
“Keluarga kami juga pernah menjadi empu di Kerajaan Mataram,” kata Sungkowo.
Setelah Perjanjian Giyanti yang membagi Kerajaan Mataram menjadi dua wilayah, keturunan Empu Tumenggung Supadriyo ke-11 hijrah ke Yogyakarta atau tepatnya di daerah Ngento-ngento, Kecamatan Moyudan.
Seiring dengan perubahan dan perkembangan zaman, belum ada lagi regenerasi dari keturunan yang menjadi empu, sebab kata dia, pekerjaan sebagai empu itu sangat berat lantaran membutuhkan kesabaran. Selain itu, menjadi empu itu juga harus akrab dan dekat dengan api.
“Jangan keluarga kami, di Yogyakarta saja tidak ada empu lainnya. Kalaupun ada perajin, cuman bisa merubah bentuk. Bukan membuat dari awal,” kata Sungkowo.
Dikarenakan keris merupakan budaya jawa yang harus dilestarikan, sebagai satu-satunya empu di Yogyakarta, ia berharap ada generasi muda di DIY bisa menjadi empu keris. Ia juga memastikan untuk membuat keris itu tidak melulu berkaitan dengan hal yang mistis dan berbau gaib.
“Saya meneruskan profesi menjadi empu ini karena ingin keris yang merupakan budaya adiluhung ini tetap lestari,” kata Sungkowo.


GIPHY App Key not set. Please check settings