in

Budidaya Tanaman Sayuran, Cara KTD Pelangi Mendungan Manfaatkan Lahan Tidur

Kelompok Tani Dewasa (KTD) Pelangi Mendungan, Yogyakarta menyulap lahan tidur yang tidak terawat menjadi lahan produktif dengan cara budidaya berbagai tanaman sayuran. (Foto:Istimewa)

Yogyakarta | Warga Kampung Mendungan, Kelurahan Giwangan, Kemantren Umbulharjo Kota Yogya yang tergabung dalam Kelompok Tani Dewasa (KTD) Pelangi menyulap lahan tidur yang tidak terawat menjadi lahan produktif dengan cara budidaya berbagai tanaman sayuran yang dapat memenuhi kebutuhan bahan makanan masyarakat.

Ketua KTD Pelangi, Budi Santosa menceritakan awalnya kelompok tani ini terdiri dari 11 anggota, kemudian banyak warga sekitar berminat untuk bergabung, terutama warga pensiunan untuk menghibur diri dan sebagai wadah untuk bersilaturahmi.

“Selain untuk merawat kampung sayur, kelompok ini juga sebagai wadah silaturahmi antar warga RW setempat. Hal ini yang menyebabkan anggota KTD Pelangi semakin bertambah,” jelasnya ketika ditemui belum lama ini.

Pada saat pandemi Covid-19 seperti sekarang ini pun, lanjutnya, tidak menyurutkan aktivitas kelompok tani untuk berkegiatan. “Kerja bakti di ladang masih tetap berjalan sekaligus berjemur diri untuk melawan Covid-19,” katanya. 

Luas lahan yang digarap KTD Pelangi ada sekitar 1000 meter persegi. Lahan ini milik warga sekitar yang mengikhlaskan untuk dikelola oleh kelompok tani. 

“Dulu, ada lahan di sekitar kampung ini yang tidak terawat oleh pemiliknya, oleh karena itu warga kampung atau kelompok tani berinisiatif dan berusaha untuk memanfaatkan lahan kosong tersebut,” bebernya.

Setelah mendapatkan izin dari pemilik lahan, para anggota KTD Pelangi melakukan berbagai macam percobaan untuk menanam tanaman terutama sayuran.

“Untuk lahan yang ditanami, ada lahan milik anggota kelompok tani sendiri dan ada juga yang milik warga setempat tetapi tidak tinggal di kampung tersebut, namun sudah mengizinkan lahannya untuk dikelola oleh kelompok tani,” ungkapnya.

Untuk hasil panennya, ia dan kelompoknya sudah bisa merasakan dari apa yang mereka tanam, misalnya kebutuhan dapur dapat mereka cukupi dari hasil tersebut.

“Tapi untuk sementara ini, hasilnya belum bisa dirasakan semua warga, hanya bisa dirasakan oleh KTD Pelangi, tapi saya berharap kedepan seluruh warga juga bisa merasakan hasil panennya,” katanya.

Apa yang telah dilakukan Santosa dan anggotanya pun tidak selalu berjalanan mulus, berbagai permasalahan pun juga kerap datang, salah satunya adalah keterbatasan sumber daya manusia (SDM) yang mampu untuk mengelola lahan tersebut.

“Untuk permasalahan yang dialami kelompok tani sampai saat ini adalah kurangnya SDM karena belum terbiasa mengelola lahan, apalagi warga di Kampung Mendungan latar belakangnya tidak banyak yang asli petani,” ujarnya.

Ia pun berharap ke depan, ada penyuluhan tentang pertanian yang bisa memberi bekal bertani untuk anggota kelompok tersebut.

Selain SDM, permasalahan kesuburan tanan, karena lahan tersebut sudah lama ‘nganggur’ mengakibatkan kurangnya kandungan hara di dalam tanah.

“Karena lahan sebelumnya jarang ditanami, menyebabkan kurangnya kandungan hara di dalam tanah,” ungkapnya.

Namun karena tekad yang kuat dan komitmen yang solid antar anggota, permasalahan yang ada tersebut dapat mereka lalui dengan mudah.

“Kami ingin menjadikan kelompok tani ini menjadi kelompok tani yang maju. Ada unsur edukatif, mempunyai daya rekreatif, dan menjadi agribisnis kedepannya, serta betul-betul merawat dan memelihara supaya bantuan itu lebih menyejahterakan petani, khususnya kelompok kami,” jelasnya. 

Sementara itu terkait dengan penyuluhan pertanian, Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta melalui Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogya tak henti-hentinya mengadakan Program Pekarangan Pangan Lestari (P2L).

Kepala Bidang Pangan Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogya, M. Imam Nur Wahid menjelaskan Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogya rutin mengadakan program tersebut, tujuannya untuk penguatan ketahanan pangan pada masyarakat, sehingga masyarakat harus bisa memproduksi sendiri benih sayur, menanam sayur, menanam sumber karbohidrat, dan juga sumber protein.

“Dalam program ini, mulai dari benih, tanam, panen, dan pasca panen bisa berputar, sehingga sumber pangan dari pekarangan ini bisa lestari dan berkelanjutan, Program ini menggunakan sumber dana alokasi khusus non fisik (DAK NF).” ujarnya.

Di Kota Yogya, ada tujuh kelompok tani (poktan) yang menerima bantuan. Salah satunya di Kelurahan Giwangan Umbulharjo, yang mendapatkan yakni KTD Pelangi,” katanya. 

Diharapkan, dengan adanya Pekarangan Pangan Lestari ini akan menjadikan lahan tani perkotaan (urban farming) di Kota Yogya akan berfungsi sebagai sumber pangan terdekat bagi warga masyarakat.

Menurutnya, di wilayah, hal semacam ini bisa menjadi ‘dapur hidup’ yang setiap saat menyediakan sumber pangan, baik sumber karbohidrat yakni dari umbi-umbian, ubi, sumber protein yakni dari lele dalam ember dan ayam petelur, dan sumber vitamin lain dari sayur-sayuran. (Pemkot Yogyakarta)

What do you think?

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.

GIPHY App Key not set. Please check settings

    PPKM Jawa Bali Kembali Diperpanjang Dua Minggu, Evaluasi Tiap Minggu

    Eko-enzim Solusi Perbaiki Air Sungai di Kota Yogyakarta