in

Berbagai Hukuman Dari Sejumlah Negara Untuk Rusia

Presiden Rusia Vladimir Putin memberikan pidato selama sesi pleno Forum Ekonomi Internasional St. Petersburg (SPIEF) di Saint Petersburg, pada 4 Juni 2021. (Photo by Dmitry LOVETSKY / POOL / AFP)

Jakarta | Berbagai sanksi dari sejumlah negara kepada Rusia pasca invansi Ukraina membuat Presiden Rusia Vladimir Putin meradang.

Kremlin, Kantor kepresidenan Rusia mengumumkan akan membalas sanksi tersebut dengan caranya sendiri.

“Tak perlu dikatakan bahwa tindakan pembalasan pasti akan menyusul,” tegas juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, kepada media, Jumat (25/2/2022).

Sejumlah negara seperti Amerika Serikat dan Jepang bahkan mengumumkan sanksi tambahan setelah pasukan Rusia menduduki Kiev, ibukota Ukraina. Berikut rentetan sanksi yang telah dimumkan sejumlah negara untuk Rusia.

Amerika Serikat

Pada Senin (21/2), pasukan Rusia merangsek masuk wilayah Ukraina, Presiden AS, Joe Biden mengumumkan sanksi tahap awal bagi Rusia. Biden menandatangani perintah eksekutif dengan sasaran sanksi bagi setiap lembaga jasa keuangan Rusia.

Seperti diketahui, aktivitas bisnis Rusia sangat bergantung pada dolar AS. Lebih dari 80% transaksi valuta asing harian Rusia dan setengah dari perdagangan negara itu menggunakan mata uang dolar AS.

Washington telah menyebut sanksi untuk dua bank Rusia, yakni Vnesheconombank (VEB) Promsvyazbank (PSB). VEB disebut punya posisi krusial bagi kemampuan Rusia untuk mengumpulkan dana, sedangkan PSB strategis bagi pertahanan Rusia.

Dua bank dengan gabungan aset hingga US$ 80 miliar akan dilarang bertransaksi dalam sistem perbankan AS dan Eropa. Bank ini disinyalir punya hubungan sangat dekat dengan Kremlin dan militer Rusia, di mana sanksi juga mencakup pembekuan semua aset di bawah yurisdiksi AS.

Anggota parlemen AS bahkan menyarankan Rusia dihapus dari Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunications (SWIFT). Ini merupakan jaringan keamanan tinggi menghubungkan ribuan lembaga keuangan di seluruh dunia. Sanksi ini akan mempersulit transaksi lembaga keuangan Rusia baik ke dalam atau ke luar negeri.

Tak hanya pada negara, AS juga memberikan sanksi kepada sejumlah personel elit pemerintahan Rusia. Sanksi ini berlaku mulai Rabu (23/2), termasuk untuk anggota keluarga mereka, serta para pemimpin sipil dalam hierarki kepemimpinan Rusia. Sanksi juga menargetkan pemblokiran utang negara Rusia di pasar AS dan Eropa.

Belakangan, pada Kamis (24/2), Joe Biden menegaskan akan kembali memberi sanksi tambahan pada Rusia. Sanksi diindikasikan akan berdampak lebih luas yang bisa mempersulit Moskow dalam kancah ekonomi global.

Biden menyebut hukuman baru akan menargetkan triliunan aset. Termasuk tindakan khusus terhadap elit serta bank-bank termasuk bank umum milik negara. “Hari ini, saya mengizinkan sanksi tambahan yang kuat dan batasan baru tentang apa yang dapat diekspor ke Rusia,” kata Biden Kamis sore.

Jepang

Dari Tokyo, Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida mengumumkan berupa larangan penerbitan obligasi Rusia di Jepang. Seperti AS, Fumio Kishida juga menegaskan akan membekukan aset individu Rusia tertentu serta membatasi perjalanan ke Jepang.

Setelah pasukan Rusia masuk wilayah Ukraina, Jepang mengumumkan sanksi tambahan terhadap Rusia, terutama pembatasan ekspor chip. Sanksi ini berlaku pada wilayah ekspor chip semikonduktor dan produk umum lainnya.

“Invasi Ukraina oleh Rusia adalah masalah serius yang mempengaruhi tatanan internasional yang mencakup tidak hanya Eropa tetapi juga Asia,” tegas Fumio Kishida kepada pers, Jumat (25/2/2022).

Sanksi baru bagi individu dan organisasi Rusia yang diumumkan Kishida termasuk pembekuan aset dan penghentian penerbitan visa, ditambah sanksi keuangan termasuk pembekuan aset yang menargetkan lembaga keuangan Rusia. Bahkan aktivitas ekspor pada organisasi militer Rusia juga tak luput dari sanksi Jepang.

Inggris

Sanksi dari Inggris menyasar lima bank terbesar Rusia dan tiga konglomerat dari negara itu. Bank dimaksud adalah Rossiya Bank, IS Bank, General Bank, Promsvyazbank dan Black Sea Bank.

Selain itu, Inggris akan membekukan aset tiga orang kaya Rusia yakni Gennady Timchenko, Boris Rotenberg dan Igor Rotenberg. Keluarga Rotenberg adalah pemilik bersama SGM Group, yang membuat infrastruktur minyak dan gas. Sementara Timchenko adalah pemilik perusahaan investasi swasta Volga Group.

Inggris juga akan memberikan sanksi kepada anggota parlemen Rusia yang secara terbuka mengakui kemerdekaan kedua wilayah Ukraina yang hendak memisahkan diri.

Jerman

Kanselir Jerman Olaf Scholz mengumumkan penghentian proyek pipa gas Nord Stream 2. Pipa sepanjang 1.230 kilometer (km) itu dibangun untuk mengalirkan gas alam dari Rusia ke Jerman. “Kedengarannya teknis, tapi ini langkah administratif yang diperlukan agar tak ada sertifikasi pipa. Tanpa sertifikasi ini, Nord Stream 2 tak bisa mulai beroperasi,” kata Scholz.

Tak hanya itu, pasokan vaksin Covid-19 untuk Rusia yang diproduksi di Jerman juga akan dihentikan. Seperti diketahui, vaksin Sputnik V merupakan produk Rusia yang selama ini diproduksi di salah satu negara bagian di Jerman.

Uni Eropa

Sementara itu, Presiden Komisi Eropa Ursula Von Der Leyen menyatakan pihaknya akan memblokir semua akses ekonomi Rusia, termasuk bank. “Kami akan membekukan aset Rusia di Uni Eropa dan menyetop akses bank Rusia ke pasar keuangan Eropa,” tegas Leyen.

Selain akses ekonomi, Uni Eropa juga akan memblokir akses teknologi dan pasar kunci lainnya bagi Rusia. “Kami akan melemahkan basis ekonomi Rusia dan kapasitasnya untuk memodernisasi,” lanjutnya.

Ini hanya segelintir sanksi yang akan dirasakan ekonomi rusia. Masih banyak sanksi lain dari sejumlah negara yang juga telah diumumkan.

Sumber investor.id

What do you think?

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.

GIPHY App Key not set. Please check settings

    Produk Dalam Negeri Banyak Yang Berkualitas, 40 Persen APBD Wajib Belanja Ke UMKM

    Impor Biji Gandum Dari Ukraina Tertinggi, Perusahaan Pengimpor Cari Alternatif Lain