Jakarta | Konflik Rusia dengan Ukraina disoroti oleh berbagai pihak, salah satunya dari Gabungan Pengusaha Makanan Minuman (Gapmmi)
Kenaikan harga gandum yang menjadi bahan baku utama pembuatan mi instan, roti dan beberapa makanan lainnya dapat menjadi akibat dari konflik yang terjadi
Ketua Umum Gapmmi, Adhi S. Lukman mengatakan, pengusaha mempertimbangkan banyak hal sebelum menaikkan harga pangan tersebut. Menurut dia, kenaikan harga bergantung pada lamanya intensitas perang yang terjadi.
Potensi kenaikan harga akan kecil apabila invasi Rusia berhenti sekitar 1-2 minggu ke depan. Alasan ini dikarenakan pengusaha besar pada umumnya hanya memiliki stok bahan jadi untuk 2 minggu hingga 1 bulan saja, sementara stok bahan baku cukup untuk 2-3 bulan
“Industri sebenarnya masih punya stok yang tersedia baik bahan baku maupun barang jadi. Jadi industri tidak serta merta menaikkan harga langsung dengan kenaikan harga spot,” kata Adhi kepada Kompas.com, Minggu (27/2/2022).
Potensi kenaikan harga dapat menjadi besar apabila invasi berjalan hingga 1 bulan, mengingat 26 persen stok gandum Indonesia disuplai dari Ukraina
Sementara mengacu pada data Badan Pusat Statistik, Ukraina berada di urutan pertama sebagai pengimpor gandum di Indonesia. Pada tahun 2020, impor gandum Indonesia dari Ukraina mencapai 2,96 juta ton.
Secara keseluruhan di tahun 2020, total impor gandum Indonesia sebanyak 10,299 juta ton. Dengan demikian, Ukraina berkontribusi pada lebih dari 20 persen stok gandum di Tanah Air.
Kemudian pada Januari 2022, serealia tercatat menjadi komoditas impor yang naik paling tinggi. Komoditas dengan kode HS 10 ini tercatat naik 130,3 juta dollar AS secara bulanan (month to month/mtm) terhadap Desember 2021.
“Tentunya kalau (perang) ini berlangsung lama pasti akan berdampak pada kenaikan harga gandum dan tentunya stok dari industri enggak cukup, mau enggak mau industri harus menaikkan harga,” tutur Adhi.
Mau tidak mau, pengusaha disarankan harus mencari suplai gandum selain Ukraina meskipun rencana tersebut tidak mudah, karena negara lain pun turut mencari gandum
Stok gandum yang terbatas di tengah meningkatnya permintaan membuat seluruh negara berebut dan harga gandum melonjak. Belum lagi ongkos logistik bisa lebih mahal lantaran harga minyak yang sempat tembus 100 dollar AS per barel akibat konflik itu.
“Ini juga memiliki dampak tidak langsung ke komoditi lain. Tentu alternatif sumber pangan lainnya, pangan berkarbohidrat, pasti (harganya) akan berpengaruh juga. Dunia sudah sangat sulit dipisahkan karena satu sama lain sangat terkait,” beber Adhi.
Lebih lanjut kata Adhi, pengusaha tidak bisa serta-merta menaikkan harga di tingkat ritel. Biasanya pengusaha memberikan tenggat waktu sekitar 1 bulan sebelum memutuskan menaikkan harga pangan.
“Itu mekanisme yang kita lakukan sehingga industri tidak mudah menaikkan atau menurunkan harga. Tapi kalau dengan perang sebulan ini pasti akan berdampak. Saya kira dampaknya cukup berat kalau berlangsung cukup lama,” tandas Adhi.(girbok/*)
GIPHY App Key not set. Please check settings