Merealisasikan tantangan
Di Yogyakarta – Indonesia, kolaborator seni dua dimensi mural tersebut, ialah Jogja Disabilty Arts (JDA). Yakni yayasan yang berdiri jelang masa pandemi, tepatnya akhir tahun 2019. Membangun kesetaraan bagi difabel dalam mencipta dan menikmati karya seni budaya, ialah ruh yang dibangun dalam gerakannya.
Sukri Budi Dharma yang akrab disapa Butong, ialah pendiri Yayasan JDA tersebut. Bagi dia, terkurung dan terkungkung oleh Pandemi, tak berarti kreativitas menjadi terbatasi. Tantangan, pembatasan berbagai kegiatan karena merebaknya virus Corona, justru melanggengkan perspektif, bahwa hidup harus terus bermakna bagi sesama.
“Tak mudah, namun bukan berarti tak mungkin. Karena tak ada yang tak mungkin jika mau melakukan,” adalah prinsip yang dipunyainya. Melalui JDA, dia menebarkan virus-virus semangat kepada sesama difabel. Tak sendiri dia berjuang. Bersama Nano Warsono, Dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta yang juga Direktur Galeri R.J. Katamsi, keduanya berjibaku mewujudkan kesetaraan kesempatan untuk wujudkan dunia seni inklusif.
“Merealisasikan tantangan dalam bentuk karya seni dua dimensi Mural, adalah sebuah cara tepat mengabadikan peristiwa sejarah yang ditemuinya. Pandemi, sebuah peristiwa sekaligus sejarah yang diharapkan tidak akan terulang lagi di masa depan,” ujar Butong, Kamis (24/6/2021).
Butong juga menginformasikan bahwa, kolaborasi seni mural lintas negara tersebut didanai oleh Connections Through Culture (CTC). Yaitu organisasi di Inggris yang menyediakan dana hibah bagi penduduk Inggris dan Asia Tenggara, di antaranya Indonesia, Malaysia, Myanmar, Filipina, Thailand, dan Vietnam. Melalui British Council dibeberapa negara, CTC membuka panggilan terbuka untuk menjaring seniman, organisasi, komunitas untuk kolaborasi ini.
Sumber. Jogja Disability Arts


Ini baru keren…