in

Ketua Gusdurian Kota Depok, Aktifis Kemanusiaan Yang Kreatif

Pinggirtembok.com | Ketua Gusdurian Kota Depok memiliki perjalanan yang panjang sebagai aktifis kemanusiaan hingga sukses menjadi petani talas di Depok.

Disea-sela kesibukannya pinggirtembok.com bertemu dengan Mansyur Al-Farisi Ketua Gusdurian Kota Depok.

Pria kelahiran 42 tahun lalu di Gg Masjid Sawangan Kota Depok, Jawa Barat ini berlatar pendidikan di SDN 04 Sawangan Depok, SMP di Ponpes Al Hamidiyah hingga melanjutkan ke MAN 2 Bogor. Pendidikan tingkat tingginya pun dilalui di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Ia menceritakan kisah hidupnya yang dari kecil sudah terbiasa hidup seserhana. Memiliki keahlian bertani sejak kecil, yang kala itu ia masih berumur tiga tahun seringkali diajak oleh ibunya untuk bertani menanam talas di daerah Rawa Denok, Rangkapan Jaya Depok, Jawa Barat.

Aktif di organisasi kemanusiaan semenjak kuliah di UIN Syarif Hidayatullah membuat dirinya berpengalaman menjalankan sebuah organisasi.

Sebagai aktifis Pergerakan 98 ini pun pernah menjadi salah satu relawan kemanusiaan di Aceh pada tahun 2004 silam.

Ada cerita menarik pada saat sehari sebelum bencana tsunami di Aceh terjadi, yaitu ketika dirinya memutuskan untuk pulang ke Depok untuk bertemu kedua orangtuanya.

Tak disangka, kepulangan ia ke Depok menyelamatkan ia dari bencana yang terjadi keesokannya.

Ia pun menangis ketika melihat berita di tv bahwa sepulangnya dari Aceh terjadi bencana tsunami tersebut. Ia pun bersyukur telah menuruti keinginan orangtuanya untuk segera pulang, yang padahal tidak mengetahui bencana itu akan terjadi.

Di tahun 1999 saat aktif menjadi mahasiswa di UIN Syarif Hidayatullah, ia membuat komunitas Lintas Kreasi Insan Seni (L-KIS) ya g berlokasi di Gg Masjid Sawangan Depok, Jawa Barat.

Komunitas ini berdiri sebagai wadah kegiatan untuk bagi para pecandu narkoba untuk berkeatifitas.

Ia pun bercerita, bahwa banyak sindiran yang didapatkan, namun ia dapat menepisnya. “Saat itu banyak kalangan remaja bilang, kalau tidak menggunakan narkoba itu ga gaul dan kurang percaya diri”, kenang Mansyur.

Ia menyatakan, pemikiran itu justru “norak” karena pemakai narkoba itu tidak dapat menemukan jati dirinya secara utuh. “Berusahalah untuk menjauhi narkoba dan menantap kedepan dengan kehidupan yang lebih baik”, ucapnya.

Dalam kegiatan L-Kis ini, para pecandu narkoba diberikan pelatihan untuk membuat suatu kreasi, misalnya membuat anyaman berbahan baku pohon eceng godok yang tumbuh liar yang berada disawah dan setu sekitar wilayah bengkelnya untuk diolah menjadi produk yang berkualitas.

“Kerajinan sendal berbahan baku dari eceng gondok hasil karya komunitas L-Kis, yang berbahan dasar eceng gondok, di buat sesuai dengan model yang di inginkan. Untuk sepasang sandal harganya berkisar 15 – 20 ribu.”ucap Masyur, sambil sedikit berpromosi.

Berlatar belakang dari keluarga petani, Mansyur pun mencoba untuk membudidayakan talas dengan memafaatkan lokasi empang yang berada di dekat rumahnya di Pengasinan Sawangan Depok.

Membudidayakan Talas baginya merupakan dukungan salah satu program yang dicanangkan oleh Pemerintah Kota Depok, yaitu Program Ketahanan Pangan.

Saat ini, ia mempunyai lokasi kedua untuk pembudidayaan talas, yang berlokasi di Bojongsari Baru, Depok Jawa Barat tepatnya di Padepokan, di Bojongsari Baru, Depok Jawa Barat. (RA17)

What do you think?

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

GIPHY App Key not set. Please check settings

    Nomor Urut Bagi Kedua Pasangan Cawalkot Kota Depok 2020 Sudah Ditetapkan, Ini Nomornya.

    Komunitas Ranggon Sastra Yang Peduli Dengan Pertanian