in

Aplikasi Debt Collector Dihapus, Data Rentan Bocor Ke Publik

Jakarta | Kalau dulu debt collector menagih utang memakai buku catatan, dengan berkembangnya jaman saat ini tersedia aplikasi penagih hutang.

Dengan aplikasi tersebut, debt collector dapat melihat data debitur serta tagihan yang tersisa. Namun kemudahan aplikasi ini sering disalahgunakan oleh oknum tak bertanggungjawab karena bisa saja data debitur bocor ke publik

Hal ini membuat Otoritas Jasa Keuangan mengambil langkah dengan meminta Kominfo memblokir sejumlah aplikasi penagih hutang karena melanggar sejumlah ketentuan.

Berikut 6 daftar aplikasi mata elang yang OJK minta untuk diblokir :

– Best Matel R4

– Aplikasi Matel Terupdate

– Super Matel

– Matel Apps

– Super Matel R2

– Aplikasi Mata Elang Motor

Menurut informasi, surat permohonan OJK ditujukan kepada Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kominfo, Semuel Abrijani Pangerapan.

“Otoritas Jasa Keuangan mendapatkan informasi yang menyampaikan bahwa ada beberapa aplikasi yang digunakan oleh para tenaga jasa penagih atau debt collector untuk melakukan penarikan objek sitaan dengan melanggar ketentuan yang berlaku,” tulis surat tersebut.

Antara lain, Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 5 Tahun 2020 tentang Penyelenggara Sistem Elektronik Lingkup Privat Serta melanggar Pasal 50 POJK Nomor 35/POJK.35/2018 tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Pembiayaan.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI), Suwandi Wiratno memahami permintaan OJK tersebut untuk menutup aplikasi matel karena rentan disalahgunakan.

“Rentan disalahgunakan pihak-pihak yang tidak berkepentingan dan bertanggung jawab,” kata Suwandi Wiratno.

Ia mengatakan bila di aplikasi tersebut berisi data-data debitur yang bermasalah terhadap perjanjian kredit kendaraan. Tidak hanya seminggu atau sebulan dua bulan, tapi yang sudah berbulan-bulan

“Jadi memang di data itu berisi debitur yang telah wanpretasi terhadap perjanjian kredit kendaraan,” kata pria yang juga menjabat sebagai Presiden Direktur PT Chandra Sakti Utama Leasing.

Menurut Suwandi Wiratno ada beberapa kemungkinan mengenai kebocoran nasabah ini, yaitu data terbawa oleh pihak internal penagih di perusahaan pembiayaan dan data ini diterima oleh perusaah pihak ketiga yang bekerjasama dalam penagihan debitur nakal.

“Data-data ini terkumpul dalam jumlah besar dan bisa juga diperjualbelikan,” sebutnya, saat dilansir dari motorplus-online.com

“Dan ini bisa dimanfaatkan oleh siapapun bukan cuma pihak debt collect saja,” jelasnya.

Suwandi pun mendukung upaya OJK meminta pihak kominfo untuk menutup sejumlah aplikasi penagih hutang ini.

Berbeda dengan Suwandi Wiratno, Muhammad Fajar Triananda (Professional Collector), selaku Direktur PT Jostien Sukses Sejahtera, yang mengatakan bahwa aplikasi tersebut tidak dapat ditutup begitu saja.

Ia mengatakan tidak sepenuhnya kesalahan terletak pada penyedia aplikasi untuk Mata Elang saja dan aplikasinya ditutup begitu saja akibat dari banyaknya komplain masyarakat.

“Alasannya, pihak penyedia jasa aplikasi tersebut hanya mencantumkan nopol kendaraan, nama leasing, hari overdue, dan sebagian kecil yang mencantumkan sisa hutangnya,” ujar Fajar panggilan akrab Muhammad Fajar Triananda dikutip dari Gridoto.

Menurutnya lagi, seharusnya OJK dan APPI memberikan wadah bagi rekan-rekan yang belum tergabung dalam badan hukum.

“Harapannya mereka bisa bergabung dan perlindungan hukum untuk rekan-rekan Mata Elang menjadi lebih jelas,” tutup Fajar. (girbok/berbagai sumber)

What do you think?

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

GIPHY App Key not set. Please check settings

    Cara Membahagiakan Karyawan Ala Amazon

    Hari Ini PPKM Berakhir, Apakah Akan Diperpanjang Lagi?