Yogyakarta | Teladan dan gagasan bagi kerukunan beragama menjadi tema khusus agenda talkshow mengenang alm. Buya Ahmad Syafii Maarif yang berlangsung di GPIB Marga Mulya Yogyakarta Jl. Margo Mulyo No.5, Ngupasan, Kec. Gondomanan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55122 pada Sabtu, 16/07/2022. Acara dihadiri dari berbagai komunitas pemimpin keagamaan, Ormas DPD GAMKI DIY Tokoh Masyarakat lintas agama yang dilaksakan secara onsite dan daring serta secara live YouTube.
Pdt. Boydo Rajiv E.D.Hutagalung,M.A.( moderator ) Pendeta Jemaat GPIB Marga Mulya Yogyakarta sebagai inisiator acara Talkshow mengenang kembali alm. Buya Ahmad Syafii Maarif ketika beliau pernah menjadi pembicara di GPIB Marga Mulya Yogyakarta dan memperkenalkan secara singkat berbagai narasumber yang memiliki kedekatan khusus dengan almarhum untuk bisa dibagikan dalam acara Talkshow hari ini.
Bhikkhu Sri Pannyavaro Mahatera ( Ketua Umum Sangha Theravada Indonesia Tahun 2016-2021 ) yang sering berkegiatan bersama alm. Buya Ahmad Syafii Maarif satu hal yang dikenang perkataan almarhum adalah ajaran meminta itu tidak ada yang ada adalah ajaran memberi, sesungguhnya korupsi yang menjadi penyakit bangsa ini, mereka yang menjabat melakukan korupsi dengan merasa benar di jalan yang sesat. Sikap otentik alm. Buya sangat berkesan bagi Bhikku Sri Pannyavaro Mahatera, persaudaraan sesama umat manusia dijalankan secara otentik selama masa hidup beliau.
Prof. Dr. KH. Machasin ( Guru Besar UIN Sunan Kalijaga dan ketua MUI DIY, anggota Mustayar PBNU ) memiliki hubungan khusus sebagai dosen dan mahasiswa. Satu hal yang unik dalam beliau mengajar dan memberi penilaian ke mahasiswanya adalah banyaknya catatan yang diberikan atas hasil yang dijawab oleh mahasiswanya tetapi selalu memberikan nilai minimal 90 ke semua mahasiswanya, sudut pandang keislaman beliau sangat matang
Prof. Dr. Muhammad Amin Abdullah ( Guru Besar UIN Sunan Kalijaga, Ketua Komisi Kebudayaan AIPI ) hadir secara daring menyampaikan kesan kesahajaan dan kesederhanaan Buya, hubungan antar umat beragama sangat merangkul, beliau 100% muslim dan 100% respek ke non muslim, keislamannya progresif melewati lintas batas.

Rm. Dr. Mulyatno, Pr. ( Dosen Fak. Teologi Universitas Sanata Dharma ) secara daring menyampaikan hubungan akrabnya sebagai dosen dan mahasiswa saat mengambil kedoktoran, alm. Buya sebagai pribadi krrismatik, efektif, moderat dan menyatukan sehingga menjadi magnet menyejukkan bagi banyak orang apapun agamanya, menjadi teladan kehidupan sebagai dosen maupun bapak bangsa, keberpihakan pada kebenaran, kebangsaan dan kemanusiaan.
Prof. Dr. dr. Nyoman Kertia ( Guru Besar Fak. Kedokteran UGM, Ketua Gita Santih Nusantara ) secara daring menyampaikan kesan hubungan dokter dan pasien saat beliau pernah periksa saat lutut kakinya mengalami sakit, yang berkesan adalah ucapan terima kasih melalui pesan singkat sebagai dokter menganggap Alm. Buya memiliki perhatian yang luarbiasa sebagai pasien, yang mengingatkan bahwa seorang dokter juga wajib memberikan perhatian yang baik kepada tiap pasiennya.
Pdt. Elga Sarapung ( Direktur DIAN/Interfidei ) sebagai pendeta Kristen Protestan sangat beruntung bisa belajar secara langsung ke alm. Buya Ahmad Syafii Maarif tentang Keislaman yang sangat menguatkan keimanan dan berbagai acara lintas agama yang dilakukan bersama almarhum. Menurut Buya beragama yang otentik adalah beragama yang tidak memakai topeng, bila dilakukan secara benar akan selaras dengan kebangsaan dan kemanusiaan. (herman)



GIPHY App Key not set. Please check settings