in

Kampung Budaya Langenastran Selenggarakan Ngapem Bareng, Ruwah Gumregah

Suasana Ngapem Bareng di acara "Ruwah Gumregah". (foto/girbok)

Yogyakarta | Kampung Budaya LANGENASTRAN kembali menggelar acara “Ruwah Gumregah” (Minggu, 27/03/22). Kegiatan tersebut sempat ditiadakan pada tahun 2020 dan 2021 karena Pandemi Covid-19. Dengan pertimbangan masih pandemi maka hanya diselenggarakan acara “Ngapem Bareng” yang diwakili oleh 9 RT di wilayah RW 03 Kampung Langenastran, Panembahan, Kraton, Kota Yogyakarta.

“Ruwah Gumregah” pada tahun 2022 merupakan kegiatan yang ke-4, dibuka oleh RM Murti Buntoro (Lurah Panembahan). “Kelurahan Panembahan mendukung sepenuhnya acara Ruwah Gumregah dalam bentuk Gapem Bareng”, jelas Murti Buntoro. Pada tahun mendatang, acara Ngapem Bareng diharapkan akan melibatkan seluruh warga Kelurahan Panembahan misalnya diwakili setiap RW.

Untuk diketahui, kata ‘Ruwah’ sendiri sebenarnya berasal dari Bahasa Arab ‘arwah’ yang memiliki makna roh, nyawa, atau jiwa. Secara bebas, ruwah dapat diartikan sebagai arwah atau roh-roh orang yang sudah meninggal dunia, sedangkan ruwahan adalah kegiatan mengenang roh-roh tersebut.

Masyarakat Jawa dikenal dengan banyaknya ritual yang dilakukan dalam berbagai kesempatan. “Seperti ketika menjelang bulan puasa, ada tradisi Ruwahan yang pasti menghadirkan makanan Ketan, Kolak dan Apem”, jelas KRT Raditya Wisroyo (Ketua Paguyuban Kampung  Budaya LANGENASTRAN).  Menurut KRT Raditya, tradisi ini sendiri biasanya dilaksanakan bulan Ruwah dalam kalender Jawa, atau bulan Sya’ban dalam kalender Hijriah.

Selanjutnya KRT Raditya menjelaskan biasanya tradisi Ruwahan ini diselengarakan 10 hari menjelang bulan puasa, yang ditandai dengan membuat sajian Ketan, Kolak dan Apem. Yang nantinya, sajian ini akan dibagikan ke saudara-saurda juga ke tetangga sekitar. Ada pula yang menyelenggarakan Ruwahan ini dengan acara kenduri.

Pemenang Favorit “Ngapem Bareng” Kampung Langenastran bersama Pengurus Kampung Budaya Langenastran. (foto/girbok)

“Tradisi dari leluhur wajib kita jaga dan lestarikan”, tegas AM Putut Prabantoro (Dosen Lemhanas RI) yang juga salah satu penggagas Paguyuban Kampung Budaya LANGENASTRAN. Menurut  Putut, generasi muda sejak dini harus dikenalkan kepada tradisi budaya. Dengan kondisi tersebut maka warisan tradisi budaya, termasuk Ruwahan, dapat dijaga dan dilestarikan oleh generasi penerus.

“Jika kondisi pandemi semakin membaik maka kegiatan “Festival Batik & Bathok” akan diselenggarakan pada bulan Oktober 2022”, harap Y. Sri Susilo (Sekretaris Paguyuban Kampung Budaya LANGENASTRAN). Untuk diketahui, “Festival Batik & Bathok” sudah diselenggarakan pada tahun 2016 dan 2018. Dalam kegiatan tersebut dipamerkan batik Kraton Ngayogyakarta dan Pakualaman serta batik tulis tradisonal dan modern. “Panitia mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung kegiatan Ruwah Gumregah”, tutup Y. Sri Susilo dalam rilisnya kepada media. (girbok)

What do you think?

100 Points
Upvote Downvote

Written by GirBok

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

GIPHY App Key not set. Please check settings

Kadin Bandung Diminta Membantu Pemulihan Ekonomi Pasca Pandemi

Sri Mulyani : PPN Sekarang 10 Persen Akan dinaikkan ke 11 dan 12 di Tahun 2025