in

Diskusi LARI (Lingkar Akademisi Reformasi Indonesia), Apek Lingkungan Forum G20

Forum Diskusi LARI via Zoom. (Foto/Herman)

Yogyakarta | Forum LARI (Lingkar Akademisi Reformasi Indonesia) menyelenggarakan diskusi daring putaran 1 akhir tahun 2021 (13/12/21). Topik atau isu yang diangkat dalam diskusi adalah manfaat Forum G20, khususnya Presidensi G20, bagi Indonesia. Seperti diketahui sejak 1 Desember 2021 sampai dengan 30 November 2022, Indonesia menjadi “tuan rumah” berbagai kegiatan Forum G20 dan puncaknya Summit Forum G20 di Bali. Indonesia mengusung tema besar “recover together, recover stronger

“Dalam Forum G20 terdiri dua jalur yaitu finance track dan sherpa track”, jelas Tulus Warsito (Guru Besar Fisip UMY) selaku Koordinator LARI. Menurut Tulus, jalur finance track yang membahas isu-isu di bidang ekonomi, keuangan, fiskal dan moneter. Jalur sherpa track yang membicarakan isu-isu ekonomi nonkeuangan, seperti energi, pembangunan, pariwisata, ekonomi digital, pendidikan, tenaga kerja, pertanian, perdagangan, investasi, industri, kesehatan, anti korupsi, lingkungan, dan perubahan iklim.

“Tema besar Iyang diangkat ndonesia yang sangat kuat kaitannya dengan pemulihan pasca pandemi” ungkap Tulus Warsito. Selanjjutnya, beberapa permasalahan akut yang ditemukan dalam perekonomian global juga diangkat dalam Presidensi G20 Indonesia. Isu-isu tersebut di antaranya seperti ketimpangan, perubahan iklim, digitalisasi, serta multipolarisasi geopolitik global.

Topik penanganan perubahan iklim dan lingkungan hidup juga menjadi salah satu topik yang diangkat dalam Forum G20.. “Penanganan perubahan iklim harus diletakkan dalam kerangka besar pembangunan berkelanjutan,” harap Muhammad Azhar (Guru Besar UMY) salah satu aktivis LARI. Selanjjtnya Azhar menegaskan, terkait penanganan perubahan iklim  hanya bisa dilakukan dengan bekerja sama dalam tindakan nyata dan bukan saling menyalahkan.

Menurut Cungki Kusdarjito (Dosen UJB), penanganan perubahan iklim harus bergerak maju seiring dengan penanganan berbagai tantangan global lainnya seperti pengentasan kemiskinan dan pencapaian target Sustainable Developmnet Goals (SDGs). Terkait hal tersebut Indonesia telah menargetkan Net Sink Carbon untuk sektor lahan dan hutan selambat-lambatnya tahun 2030 dan “Net Zero” di tahun 2060 atau lebih cepat. Kawasan Net Zero mulai dikembangkan termasuk pembangunan Green Industrial Park di Kalimantan Utara seluas 13.200 hektar, yang menggunakan energi baru terbarukan dan menghasilkan green product.

“Saat ini masih terdapat industry kotor (dirty industry) tidak peduli pada lingkungan”, ungkap C. Lilik Krismantoro Putro (Pengamat Lingkungan dan Aktrivis Pendidikan). Menurut Lilik, regulasi lingkungabyang ada implementasi belum cukup efektif untuk mengatasi pencemaran akibat limbah industri. Untuk itu agenda yang membahas green industry dan green economy sudah seharusnya menjadi topik atau isu yang diangkat dalam forum G20.

Untuk diketahui Forum LARI beranggotakan akademisi PTS dari berbagai disiplin ilmu di Yogyakarta tanpa memandang latar belakang SARA. Beberapa ouput hasil diskusi telah dan akan diwujudkan dalam kertas kerja (working paper) kepada pemangku kepentingan yang terkait. “Topik diskusi sleanjutnya terkait kondisi politi dan ekonomi tahun 2022”, jelas Y. Sri Susilo (Sekretrais LARI) dalam rilisnya kepada media. (rls)

What do you think?

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

GIPHY App Key not set. Please check settings

    Keterlibatan Generasi Muda Milenial Menjadi Staf Khusus Kepresidenan

    Dewan Pengurus Wilayah ILDI Kabupaten Kulon Progo Masa Bhakti 2021-2025 Resmi Dilantik