in

Tren Edamame Dan Porang Tinggi, Permintaan Ekspor Meningkat

Jakarta | Edamame sejatinya adalah kedelai yang masih muda dan berwarna hijau saat dipetik. Sedangkan umbi porang mengandung zat glucomananatau zat dalam bentuk gula kompleks dan serat larut yang berasal dari ekstrak akar tanaman.

Permintaan kedua produk pertanian tersebut ditengah pandemi saat ini pun meningkat. Hal ini dikarenakan kesadaran masyarakat untuk menjaga daya tahan tubuh dengan memakan makanan sehat di era pandemi ini.

Karena itu, Badan Karantina Pertanian (Barantan) Kementerian Pertanian (Kementan) mendukung upaya peningkatan ekspor pertanian sesuai program Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor (Gratieks). 

Sesuai arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, Kepala Barantan Kementan Bambang mengatakan terus melakukan dorongan ekspor komoditas pertanian melalui berbagai aspek.

“Kami sangat terbuka dan mendukung ekspor produk andalan seperti edamame dan porang. Silakan menghubungi badan karantina pertanian di daerah masing-masing untuk berdiskusi dan berkoordinasi apabila ada kendala,” ujar Bambang, saat menjadi pembicara utama dalam Diskusi Webinar yang diselenggarakan Forum Wartawan Pertanian (Forwatan) bertemakan “Mendorong Ekspor Berbasis Kawasan”, Sabtu (7/8).

Diskusi ini terselenggara berkat dukungan Barantan Kementan dan PT Austindo Nusantara Jaya Tbk. Ada tiga pembicara dalam webinar yaitu Presiden Direktur PT Gading Mas Indonesia Teguh (GMIT), Erwan Santoso, Ketua DPW Pegiat Petani Porang Nusantara Deny Welianto, dan Pejabat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati Barantan, Abdul Rahman.

Erwan menjelaskan pihaknya sejak tahun 2015 mulai membudidayakan edamame yang memilik protein dan antioksidan tinggi dengan membeli edamame dari para petani mitra dan menjualnya ke pasar domestik.

Jenis produk edamame untuk pasar domestik antara lain ; edamame segar, beku dan kupas sedangkan untuk pasar ekspor menjual produk edamame beku, mukimame dan okra beku

“Tren pasar ekspor edamame sangatlah bagus. Di kala pandemi, ada kenaikan permintaan di negara tujuan ekspor. Baru tahun lalu, kami mulai ekspor edamame,” ujar Erwan. 

Di dalam negeri produk edamame segar menjadi pilihan konsumen yang sebagian besar diserap kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bali.

“Sekarang ini, konsumen beralih kepada produk segar. Perusahaan dapat menjual ratusan ton edamame segara ke berbagai kota besar terutama Bali. Sebab, banyak wisatawan terutama asal Jepang yang mengunjungui Bali,” ujarnya.

Pabrik edamame GMIT pun telah menerapkan standar internasional seperti food safety, food quality, dan traceability yang telah mencapai produksi 6.000 ton pertahunnya.

Dengan mengubah prilaku petani dari cara konvensional menuju pertanian berbasis standar global sehingga hasil sesuai spesikasi pembeli. Selain itu dalam program KSO, GMIT ikut memberikan dukungan berupaya teknik budidaya edamame , modal dan jaminan pasar

Berbeda dengan porang, sejauh ini belum ada standarisasi harga porang secara nasional

“Itu yang menjadi problem bagi petani untuk pengembangan budidaya porang secara masif,” uajr Deny

Saat ini tersedia kurang lebih sekitar 18-19 pabrik yang terpisah-pisah dan itu menjadi jarak mobilisasi petani menjadi lebih berat, dengan kata lain biaya cost produksi menjadi bertambah saat panen

Di sektor budidaya, untuk mulai budidaya porang itu tidak harus skala besar atau satu hektar dua hektar. Memulai budi daya porang itu berkaitan dengan budget dan target.

Abdul pun meminta petani mulai menanam porang dengan standar Good Agricultural Practices (GAP) dan Good Handling Pracliices (GHP), seperti yang persyaratan China.

Dalam draft protokol ekspor chip porang ke Tiongkok, petani diminta agar petani porang tidak menggunakan pupul kimia

Dalam penutup webinar, Bambang berpesan dan mengajak mengajak para pelaku usaha dan petani dalam negeri untuk disiplin terhadap tuntutan pasar global.

“Saya ingin mengajak kawan-kawan kita semua untuk sadar diri untuk disiplin terhadap tuntutan pasar global. Setiap bangsa di dunia ini beruapaya mengamankan warganya dari potensi bahaya bagi kesehatan. Saya pikir tanggung jawab ini juga melekat di kita terkait erat dengan tugas Balai Karantina yang juga bertangung jawab mengamankan resiko-resiko dari bahaya bagi kesehatan,” kata Bambang.

Ia juga mendorong agar para petani dan pengusaha untuk menyesuaikan pangsa pasar internasional agar produk pertanian dalam negri bisa mendapatkan harga yang bagus. (girbok/kontan)

Artikel ini telah tayang di kontan.co.id dengan judul
“Di tengah pandemi, permintaan ekspor edamame dan porang tinggi”, klik https://industri.kontan.co.id/news/di-tengah-pandemi-permintaan-ekspor-edamame-dan-porang-tinggi?page=all

What do you think?

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

GIPHY App Key not set. Please check settings

    Malioboro Akan Dibuka Penuh Asal Tunjukkan Kartu Vaksin

    Sebarkan Voucher Belanja Gratis, Masjid Jogokariyan Siapkan Dana Bencana Rp. 2 Milliar