in

Perkuat Hubungan Diplomatik Dengan India, Keraton Yogyakarta Gelar Wayang Wong

Sri Sultan mengatakan bahwa pementasan pada malam tersebut mengingatkan Ngarsa Dalem pada peringatan enam dekade Hubungan Diplomatik India-Indonesia. (Humas DIY)

Yogyakarta | Sebagai upaya mempromosikan pariwisata, seni dan budaya serta merawat hubungan baik antara Indonesia dan India, Keraton Yogyakarta bekerja sama dengan Konsulat Jenderal RI di Mumbai, menggelar pertunjukan virtual Wayang Orang bertajuk “Gana Kalajaya”, Sabtu (25/09), di Pelataran Bangsal Srimanganti, Keraton Yogyakarta.

Pementasan yang didigelar pukul 19.00 -22.00 WIB atau 17.30-21.00 IST (waktu India) ini, dibuka dengan Tari Bedhaya Sang Amurwhabumi dan dihadiri secara langsung oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X yang sekaligus merupakan inisiator tari Gana Kalajaya, sehingga tarian ini disebut dengan Yasan Dalem. Selain Ngarsa Dalem, turut hadir GKR Hemas, para Putra serta Mantu Dalem dan Abdi Dalem secara terbatas dengan penerapan protocol kesehatan ketat.

Dalam sambutan yang disampaikan, Sri Sultan mengatakan bahwa pementasan pada malam tersebut mengingatkan Ngarsa Dalem pada peringatan enam dekade Hubungan Diplomatik India-Indonesia yang dirayakan dengan Kolaborasi Sendratari “Ramayana India-Indonesia di Candi Prambanan, 9 November 2011.

Selain itu, Sri Sultan menyebut dukungan dan bantuan India, melalui Konjen Biju Patnaik, pada masa revolusi 1945 di Ibukota Republik Yogya, juga menjadi fondasi eratnya hubungan antarkedua bangsa. “Selain legacy Nehru-Soekarno saat membangkitan Semangat Bandung, juga bayangan kuatnya ikatan budaya yang terbangun sejak berabad lalu. Dan di masakini, menjadi kewajiban kitalah untuk mengisinya guna lebih mengeratkan persahabatan India-Indonesia, dimana Yogya ikut berperan,” tutur Sri Sultan.

Lanjut Sri Sultan, jika dapat direfleksikan kunjungan Rabindranath Tagore ke Yogyakarta tahun 1927, setelah sekilas mengamati, ia lantas berkomentar “Saya melihat India di mana saja, tapi saya tak mengenalnya”. Tagore terpesona akan kreativitas dan adaptasi pujangga Jawa atas sumber-sumber India.

Dengan banyak cerita dan sejarah antara Indonesia-India, Sri Sultan menyambut baik baik dan mengapresiasi rintisan kerjasama seni-budaya gelaran Wayang Wong Gana Kalajaya tersebut. “Lakon ini adalah karya adiluhung yang dipetik dari kekayaan seni budaya Jawa bersumber dari India. Kisah Dewa ini diharapkan memberi inspirasi, agar kita selalu ora-mingkuh dalam menghadapi tantangan dan cobaan hidup apa pun, sebagaimana dipersonifikasikan oleh sosok Bathârâ Gânâ,” urai Sri Sultan.

Adapun Wayang Wong “Gana Kalajaya” merupakan kisah klasik tentang kelahiran Batara Gana/Dewa Ganesha dalam versi Keraton Yogyakarta. Sebagai tokoh sentral dalam pertunjukan ini, Batara Gana digambarkan sebagai makhluk berbadan manusia dengan kepala gajah, dan memiliki kesaktian serta gading kuat. Berkat jasanya menaklukan raja raksasa Prabu Nilaudraka, ia diangkat sebagai salah satu dewa di kahyangan dengan gelar Batara Gana atau Batara Ganesha.

Batara Gana/Dewa Ganesha atau Lord Ganesha merupakan salah satu dewa yang diagungkan di dalam kehidupan masyarakat Hindu di India sebagai Dewa Ilmu Pengetahuan. Lord Ganesha juga dianggap sebagai simbol kebijaksanaan, perlindungan, dan keberuntungan. Pemilihan cerita “Gana Kalajaya” pada pertunjukan kali ini dirasa sesuai dengan suasana perayaan Festival Ganesh Chaturthi di India, terutama di Mumbai, Maharashtra, yang berlangsung selama sepuluh hari pada awal bulan September. 

Penghageng Kawedanan Hageng Punokawan Kridhomardowo, KPH Notonegoro mengutarakan bahwa dalam perjalanan pementasannya, Wayang Wong Gana Kalajaya ini membutuhkan banyak referensi. “Ini merupakan kali pertama lakon Gana Kalajaya dipentaskan. Sebagian besar pemain yang terdiri dari Abdi Dalem dan keluarga keraton harus aktif mencari rujukan,” jelasnya.

Bahkan, selama 10 tahun terakhir, terdapat satu tokoh dalam lakon tersebut yakni Batara Gana yang tidak pernah dimunculkan. Oleh karenanya, ia banyak mengadakan diskusi dengan para penari dan pemucal (pengajar tari) di Keraton Yogyakarta. Dengan adanya diskusi tersebut, gambaran mengenai tokoh yang jarang dimunculkan dapat ditampilkan dengan baik.

Harapannya, dengan adanya pementasan ini, cerita sejarah akan terus terjaga dan selanjutnya dapat menjaga konsep people to people contact antara Indonesia dan India. Sekaligus dapat meningkatkan minat kunjungan wisatawan India ke Indonesia dan sebaliknya. (Humas DIY)

What do you think?

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

GIPHY App Key not set. Please check settings

    HB X Minta Kemas Ulang Budaya Agar Menarik Generasi Milenial

    Seminar JIBB, Keberlanjutan Batik Pada Generasi Milenia