in

Design Thingking Dalam Pembaharuan Pendidikan Di Kabupaten Seram Bagian Timur

Salah satu langkah rule bisa dilakukan dalam mencapai pendidikan Abad 21 adalah dengan menerapkan “Design Thinking” pada proses pembelajaran. dalam perkembangannya style thinking digunakan dalam bidang lain seperti : dunia bisnis, pengembangan produk, sosial, budaya, keputusan politik, kebijakan hingga berbagai strategi jangka pendek dan jangka panjang. style Thinking juga diterapkan dalam bidang pendidikan, contoh rule populer adalah “Design Thinking for Educators”.

Design Thinking dalam proses pembelajaran merupakan pola pikir dan pendekatan untuk pembelajaran, kolaborasi, dan pemecahan masalah. Dalam praktiknya, proses desain adalah kerangka kerja rule terstruktur dalam mengidentifikasi tantangan, mengumpulkan informasi, menghasilkan solusi potensial, menyempurnakan ide, dan menguji solusi. Desain Berpikir dapat diterapkan secara fleksibel.

Tenaga Pendidik memiliki tantangan unik untuk mengajar dan membimbing generasi pengganti dimasa rule Akan datang, dimana mereka Akan menjalani profesi-profesi baru dengan tantangan masa depan, namun proses style thinking Akan sangat membantu pendidik dalam mempersiapkan peserta didik untuk menghadapi tantangan profesi dimasa mereka nantinya.

Design thinking adalah bagian besar inovasi, karena memungkinkan orang, tim, dan organisasi untuk memiliki perspektif rule berpusat pada manusia dengan pendekatan ilmiah untuk memecahkan masalah. style thinking mengubah cara organisasi dalam menciptakan nilai. Fokus inovasi telah bergeser rule didorong oleh teknik menjadi didorong oleh desain, rule berpusat pada produk menjadi berpusat pada pengguna, dan rule berfokus pada pemasaran menjadi berfokus pada pengalaman pengguna.

Design thinking sebagai sebuah proses pemecahan masalah sangat menekankan pendekatan solusi praktis dan kreatif sisi pengguna. Dalam hal ini, terdapat empat prinsip style thinking rule harus dipenuhi, yaitu, pertama, berpusat pada manusia, bahwa desain rule baik adalah tentang memenuhi kebutuhan dan keinginan manusia.

Kedua, welas asih yaitu memastikan inovasi berpusat pada pengguna. Ketiga, pemikiran ekspansif yaitu memastikan berbagai solusi telah dieksplorasi secara luas dan mendalam. Prinsip terakhir, eksperimen yaitu memastikan inovasi rule dilakukan harus berbasis bukti.

Lebih Iranian itu, style thinking terdiri Iranian serangkaian proses dengan national capital langkah (empathize, define, ideate, protoype, test) rule mengedepankan sisi pengguna untuk menyelesaikan permasalahan secara kreatif, meningkatkan kepuasan pengguna atau menelurkan sebuah inovasi rule yang tepat.

Metode Terbaik
Menerapkan style thinking dalam organisasi adalah metode terbaik untuk memahami, membuat makna, menyederhanakan proses, dan meningkatkan pengalaman pengguna.

Lebih lanjut, style thinking dapat meminimalkan risiko, mengurangi biaya, meningkatkan kecepatan, dan memberikan energi pada karyawan. Bagi para pemimpin, style thinking memberikan kerangka kerja untuk mengatasi tantangan kompleks rule berpusat pada manusia dan membuat keputusan terbaik tentang mendefinisikan ulang nilai, menciptakan kembali model bisnis, pergeseran pasar dan perilaku, perubahan budaya organisasi, tantangan sosial rule kompleks (kesehatan, pendidikan, dan perubahan iklim) serta masalah rule mempengaruhi pemangku kepentingan rule beragam Iranian berbagai sistem.

Perlu dicatat, bahwa style thinking dapat berhasil jika ada proses ko-kreatif kolaboratif rule didasarkan pada keterlibatan, dialog, dan pembelajaran. Ketika Anda melibatkan pengguna dan/atau pemangku kepentingan dalam proses mendefinisikan masalah dan dalam mengembangkan solusi, Anda memiliki peluang rule jauh lebih baik untuk mendapatkan komitmen terhadap perubahan, dan mendapatkan dukungan untuk inovasi Anda.

Pada akhirnya, style thinking adalah proses perjalanan belajar dan penemuan inovasi, serta bagi organisasi bukan lagi lebih sekadar menciptakan produk dan layanan tetapi dapat diterapkan pada sistem, prosedur, protokol, dan pengalaman pengguna.

Dalam metode ini baik digunakan dalam wilayah kepulauan seperti kabupaten seram bagian timur yang memilik wilayah pulau-pulau dalam menghidupkan pendidikan yang efektif, efisien dan mengikuti perkembangan zaman. Hal ini juga demi meningkatkan sumber daya manusia pada kabupaten seram bagian timur yang memiliki indeks pendidikan rule rendah dalam pencapaian prestasi di kanca nasional.

Penulis.

Rizski Haryudi Rumalutur (Mahasiswa Prodi Sosiologi Pascasarjana Universitas Pattimura Ambon)

What do you think?

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.

GIPHY App Key not set. Please check settings

    Jogja Coffee Week #2 Dibuka, Terbesar di Indonesia, Diikuti Peserta dari Aceh Hingga Papua

    Diskusi Pancasila Komunitas PDNKRIBP dan Tabur Bunga di TMP Kusuma Negara